JANGAN BIARKAN PEKERJAANMU SEPERTI BADAN TANPA ROH
Syekh Ibn Ataillah berkata:
الأَعْمالُ صُوٓرٌ قائِمٓةٌ ، وأٓرْواحُهٓا وُجُوْد سِرِّ الإِخْلاصِ فِيهٓا .
Al-a’malu suwarun qa’imatun, wa arwahuha wujud sirr al-ikhlasi fiha.
Terjemahannya: Tindakan kita adalah hanya “forma”, bentuk luaran, jasad saja; rohnya ialah adanya rahasia keikhlasan di sana.
Kebijakan Ibn Ataillah ini memiliki dua pengertian awam dan pengertian khusus.
Pengertian umum. Tindakan adalah salah satu ciri mendasar dari manusia.
Tindakan manusia beda dengan tindakan binatang. Tindakan binatang lahir
bukan dari kehendak bebas (free will), melainkan dari dorongan-dorongan
alamiah yang tanpa ia sadari. Saya memiliki beberapa kucing di rumah
dan saya melihat sejumlah tindakan “alamiah” kucing saya yang menarik.
Misalnya: kucing selalu menggaruk-garuk tanah dengan cakarnya usai
buang kotoran. Maksudnya (jika kucing benar-benar punya maksud) ialah
untuk menutup kotoran itu. Walau kucing membuang kotoran di tempat yang
tak berdebu dan tak bertanah pun, ia tetap menggaruk-garuk. Tindakan itu
murni didorong oleh instink alamiah, bukan karena secara sadar dia
ingin menutup kotoran dengan tanah agar tidak menimbulkan polusi bau,
atau demi menjaga kebersihan.
Begitu juga, usai makan, kucing
biasa melakukan tindakan serupa: menggaruk-garuk, seolah dia ingin
menutup remah-remah makanan yang bertebaran di sekeliling wadah
makanannya. Ini instink alamiah saja. Kucing-kucing saya tetap melakukan
hal yang sama walau dia makan di tempat berkeramik dan tak ada tanah di
sana. Dia tetap menggaruk.
Rupanya, ada instink alamiah pada
kucing untuk bertahan, instink “survival”. Kucing harus melakukan itu
agar tak ada hewan predator yang bisa melacak keberadaan dia, entah
melalui kotorannya atau remah-remah makanannya. Binatang bekerja dengan
instink alamiah. Tidak ada kesadaran khusus yang mendorongnya. Tak ada
niat di balik tindakan binatang.
Tindakan manusia lain sama
sekali. Tindakan manusia selalu didasari oleh niat, oleh kesadaran. Ada
dua jenis niat. Ada niat yang orientasinya adalah jangka pendek, yaitu
meraih kepuasan sesaat. Ada niat yang orientasinya jauh ke depan:
mencapai tujuan jangka panjang, tujuan yang manfaatnya melampaui
kepentingan pribadi, tetapi mencakup banyak orang.
Ada orang yang
bertindak dengan niat sekedar untuk meraih gaji dan renumerasi. Ada
yang bekerja karena dia mencintai pekerjaan itu, karena sebuah dedikasi
dan komitmen yang tinggi pada suatu profesi, walau gajinya tak seberapa.
Biasanya, pekerjaan yang dilakukan dengan niat jangka pendek, kepuasan
yang diperoleh dari sana lebih rendah dari pekerjaan yang diniatkan
untuk tujuan jangka panjang. Seseorang yang mengerjakan sesuatu karena
sebuah dedikasi, pengabdian yang tanpa pamrih, biasanya meraih kepuasan
batin yang jauh lebih tinggi.
Kenapa? Sebab tindakan yang
seperti itu memiliki jiwa, memiliki roh, memiliki sesuatu yang
menggerakkan dari dalam. Inilah makna ikhlas dalam pengertian umum.
Ikhlas ialah mengerjakan sesuatu karena sebuah dedikasi, bukan karena
pamrih jangka pendek. Pekerjaan yang dilakukan dengan ikhlas lebih tahan
lama, juga lebih berkualitas. Banyak orang meraih sukses karena
mengerjakan hal-hal kecil, tetapi konsisten, dan penuh dedikasi.
Pekerjaan yang dilakukan dengan ikhlas biasanya melibatkan batin kita
secara keseluruhan. Karena itu hasilnya lebih memuaskan konsumen atau
orang lain. Kita bisa merasakan sendiri apakah sesuatu itu dikerjakan
asal-asalan, demi proyek, demi SPJ, demi laporan saja, seperti
proyek-proyek pemerintah. Ataukah pekerjaan itu dilakukan dengan
dedikasi yang tinggi, dengan komitmen.
Kita juga bisa merasakan
bau atau “feel”: apakah suatu pekerjaan dilakukan dengan ikhlas, atau
dengan pamrih sesaat. Anda pasti pernah mengalami hal seperti ini dalam
kehidupan sehari-hari. Ini bukanlah ilmu mistik atau tasawwuf yang
rahasia. Saya malah mau menyebutnya: inilah tasawwuf sehari-sehari,
relijiusitas sehari-hari, spiritualitas sehari-hari.
Pengertian
khusus. Ibn Ataillah menyerupakan pekerjaan manusai seperti sebuah
jerangkong, badan, wadag, jasad. Badan tak bisa bergerak jika tanpa roh
atau jiwa di baliknya. Yang menggerakkan “jerangkong” tindakan kita
adalah ikhlas, kemurnian niat.
Landasan beragama ialah ikhlas,
yaitu mengerjakan sesuatu murni sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan.
Godaan terbesar bagi seorang beriman adalah melakukan ibadah untuk
mencari “efek sosial”, untuk “setor muka” di depan masyarakat. Kita
sering menjumpai lingkungan sosial di mana menjadi orang yang saleh,
alim, rajin beribadah adalah sesuatu yang dianggap “keren” dan
mendatangkan pujian bagi pelakunya.
Ada juga lingkungan sosial
yang membawa tekanan tertentu (social pressure) agar seseorang tampak
saleh dan relijius. Ada lingkungan sosial yang bahkan menghukum
anggota-anggota di dalamnya yang membangkang dan tidak mau tampak saleh
dan relijius (seperti contoh Saudi Arabia yang memiliki polisi moral --
mutawwi'). Jika kita beribadah untuk mencari “efek sosial”, itu bukanlah
ibadah yang dilandasi oleh etos dan semangat ikhlas.
Ada tiga
tingkatan ikhlas, menurut Syekh Ibn ‘Ajibah, pengarang syarah/komentar
atas kitab Hikam -- ikhlas awam, ikhlas khawas, dan ikhlas khawass
al-khawass. Dengan kata lain: ikhlas level orang umum, ikhlas level kaum
elit, dan ikhlas level elitnya orang-orang elit.
Ikhlas kelas
orang-orang umum ialah meniadakan pamrih duniawi yang berasal dari
manusia dalam beribadah, dan hanya mengharapkan pamrih ukhrawi dari
Tuhan saja. Contoh sederhana: Kita salat bukan karena ingin mendapatkan
“social recognition”, pengakuan dari sesama warga satu kompleks, agar
kita “fit in”, merasa menjadi bagian dari suatu kolektivitas atau
perkumpulan.
Ikhlasnya kaum khawass ialah mengerjakan sesuatu
dengan pamrih pahala. Kita melaksanakan salat, misalnya, agar masuk
sorga. Ini tindakan ikhlas, tetapi ikhlas yang masih mengandung pamrih.
Tindakan semacam ini lebih tinggi derajatnya dari yang pertama. Ikhlas
yang paling tinggi ialah ikhlas khawass al-khawass: mengerjakan sesuatu
tanpa pamrih apapun selain murni untuk mengabdi kepada Tuhan. Inilah
ikhlas paling puncak. Inilah ikhlas seperti ditunjukkan oleh Rabiah
al-Adawiyyah (w. 801 M), sufi perempuan besar dari Irak. Salah satu doa
terkenal dari Rabiah adalah berikut ini:
Tuhan, jika aku menyembahMu demi sorgaMu
Halangilah aku masuk ke sana.
Jika aku menyembahMu agar aku terhindar dari neraka
Cemplungkanlah diriku di sana.
Jika Aku menyembahMu karena demi mencintaiMu
Janganlah halangi aku dari diriMu
Apa pelajaran yang bisa kita petik dari kebijaksanaan Ibn Ataillah ini?
Kita jangan membiarkan pekerjaan kita menjadi seperti jerangkong,
seperti badan yang tanpa roh, seperti “zombie”. Pekerjaan semacam itu
akan sia-sia belaka, sebab kita sudah berlelah-lelah secara fisik,
tetapi tak mendapatkan sesuatu apa. Cara satu-satunya untuk membuat
pekerjaan kita hidup dan punya roh adalah ikhlas, adalah kemurnian niat
KESIMPULAN NGAJI HIKAM #10
1. Ikhlas adalah kata yang mudah
kita ungkapkan, tetapi bukan hal yang mudah kita kerjakan.Dia adanya
dalam hati kita, tersembunyi dari siapapun, dan hanya diketahui oleh
kita dan Tuhan. Ikhlas lah yang menjadi roh dan jiwa dari tindakan kita.
Pekerjaan yang tak ada roh keikhlasan di sana, biasanya tampak
"hambar". Orang juga tak merasakan akibat apapun dari tindakan itu.
Seperti makanan yang tak ada garamnya.
2. Ikhlas bisa dimaknai dalam pengertian
umum dan khusus. Dalam pengertian umum, ikhlas adalah dedikasi
seseorang pada suatu pekerjaan, kecintaannya pada profesi, komitmennya
pada suatu tugas yang ia pikul, tanpa melihat "reward" atau upah
material yang akan diperolehnya.
Kita akan bisa melihat sendiri bagaimana perbedaan antara pekerjaan
yang dilakukan dengan ikhlas dalam pengertian penuh dedikasi, dan mana
yang tidak. Yang dikerjakan dengan penuh kecintaan dan dedikasi biasanya
memiliki kualitas yang lebih tinggi dan baik. Pekerjaan seperti ini
juga terasa akibat psikologisnya pada orang lain yang terdampak oleh
tindakan itu.
Dalam pengertian khusus, ikhlas adalah kemampuan
kita untuk beribadah hanya semata-mata untuk Tuhan, bukan untuk
pamrih-pamrih yang lain. Di era yang dikuasai oleh media sekarang,
tantangan bagi seorang beriman adalah bagaimana beribadah tanpa
mengharap ada liputan media, atau perhatian publik.
Di
tengah-tengah tekanan sosial saat ini di mana orang harus tampak
relijius di muka umum, tantangan yang kita hadapi adalah bagaimana
menjalankan tindakan beragama tanpa pamrih untuk "menyenangkan"
masyarakat.
3. Ikhlas adalah kondisi rohani, situasi batin. Kita
hanya bisa meraihnya melalui latihan terus-menerus, menahan dan meredam
setiap godaan untuk "pamer" di hadapan khalayak ramai.
Dalam bagian ke-11 nanti, akan dijelaskan lebih terang lagi bagaimana cara meraih ikhlas ini.
Sekian Ngaji Hikam #10 malam ini.
Sampai ketemu di Ngaji Hikam #11 Senin minggu depan. Mari kita tutup dengan bacaan hamdalah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar