Tampilkan postingan dengan label TULISAN APIK KO FACEBOOK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TULISAN APIK KO FACEBOOK. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Juli 2022

Cerita Lucu Kyai Kondang

 

KH A. Muchith Muzadi atau akrab disapa Mbah Muchith itu orang ‘alim yang khudlu’, bahkan cenderung khumul sangking bersahajanya. Beliaulah konseptor sejati pidato monumental Kyai Achmad Shiddiq tentang status syar’iy NKRI pada Muktamar NU di Sitobondo, 1984 —”NKRI adalah bentuk final perjuangan umat Islam Indonesia tentang Negara!”
Tapi takkan bisa engkau mengeceknya kepada Mbah Muchith sendiri. Beliau selalu bilang,
“Saya cuma tukang ketik…”
 
Semua orang mengakui ke’alimannya. Tapi Mbah Muchith sendiri ingin menghadirkan dirinya sebagai ”santri selama-lamanya”. Dengan penuh disiplin, “penampilan ala kyai” sengaja dihindarinya.
Saya kira Mbah Muchith tak punya jubah. Kain sorban saja mungkin tidak. Tak pernah saya melihatnya selain dengan peci hitamnya, saya taksir tidak mahal harganya. Peci putih ala kyai haji seolah sirikan baginya.
 
Suatu ketika, tak sengaja Gus Mus bertemu Mbah Muchith Muzadi di Surabaya.
“Ada acara apa?” Mbah Muchith bertanya.
“Pengajian”.
“Sudah bawa jas sama sorban?”
Gus Mus mengernyitkan dahi,
“Memangnya kenapa?”
“Disini kalau nggak pakai jas dan sorban nggak laku…”
 
Mbah Muchith pun kemudian menceritakan pengalamannya menghadiri undangan ceramah dari sebuah pesantren.

Jumat, 30 Agustus 2019

HAJI BERULANG-ULANG KALI

MEMBINCANG KRITIK TERHADAP HAJI BERULANG-KALI
Oleh: Abdul Wahab Ahmad

Sebentar lagi jamaah haji datang. Biasanya orang-orang pun berziarah meminta doa mereka. Beberapa dari daftar ziarah yang ada di memori saya adalah orang yang sudah haji beberapa kali. Iri sekali pada mereka, semoga kelak bisa dipermudah juga haji berkali-kali. Amin.
Di sisi lain, kita lihat ada yang suka mengkritik orang haji berkali-kali. Dibilang tak peka pada orang sekitar yang membutuhkan, harusnya ongkosnya diberikan pada fakir miskin, harusnya diganti dengan ibadah sosial kemanusiaan, bla... bla... bla... Bahkan ada yang berfatwa bahwa haji berkali-kali tak diterima Allah bila ada kerabat dan tetangganya yang miskin.

Anggap saja kritik seperti itu benar, anggap memberikan sisa rezeki ke orang fakir miskin lebih utama daripada haji, tapi kenapa ya kritik tajam semacam itu hanya tertuju pada ibadah haji berulang saja? Tak satu pun saya dengar kritikus yang demikian mengkritik orang yang beli mobil, tanah, membangun rumah dan lain-lain dengan alasan serupa. Padahal harga mobil bekas standar saja bisa cukup setidaknya untuk haji dua kali. Apalagi harga mobil baru, harga tanah, membangun rumah dan sebagainya yang bisa seharga puluhan kali ongkos haji. Kenapa kritik tajam yang sama tak ditujukan pada mereka padahal seharusnya itu yang lebih pas dikritik?

Sabtu, 24 Agustus 2019

Bisakah Manusia Mengubah Takdir?

Dalam ilmu tauhid, takdir adalah istilah yang merujuk pada qadla’ atau keputusan Allah yang telah tertulis di lauh mahfudz sejak sebelum dunia tercipta. Allah menyinggung hal ini dalam banyak ayat, misalnya:
 
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
 
"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah" (QS. Al-Hadid: 22).
 
لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَلَا أَصْغَرُ مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْبَرُ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
 
“Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sekalipun seberat zarrah baik yang di langit maupun yang di bumi, yang lebih kecil dari itu atau yang lebih besar, semuanya (tertulis) dalam Kitab yang jelas (lauh mahfuzh),” (QS. Saba’: 3).
 
Kalau demikian, maka bisakah manusia mengubah takdir dengan usahanya sendiri? Jawaban pertanyaan ini sebenarnya tak ada, tak bisa dijawab dengan ya atau tidak, sebab pertanyaan ini bermasalah. Pertanyaan ini muncul dari asumsi seolah ada usaha atau tindakan di dunia ini yang tak tercatat sebagai takdir di lauh mahfudz sehingga hendak dipertentangkan dengan catatan di lauh mahfudz. Seolah-olah penanya ingin membenturkan antara usaha manusia di satu pihak dengan takdir di pihak lain. Padahal kejadiannya tidaklah demikian. Usaha manusia, baik itu berupa tindakan, pilihan rasional, atau doa yang dipanjatkan, semuanya adalah kejadian yang tertulis di lauh mahfudz sebagaimana disinggung dalam ayat di atas. Sama sekali tak ada kejadian apa pun yang tak terekam di sana. 
 

KERJA PADA MANUSIA ATAU PADA ALLAH?


Suatu saat seseorang yang berwirausaha membuli seorang pegawai dengan menggunakan bahasa hakikat. 

Terjadilah obrolan sebagai berikut :
Wirausahawan: Kamu kerja jadi pegawai artinya kamu kerja pada manusia. Sedangkan aku kerja pada Allah tak terikat pada manusia. Kamu digaji manusia, sedangkan aku digaji langsung oleh Allah. Meski mungkin gajiku tak tetap seperti gajimu, tapi jelas lebih kaya Allah yang mengajiku daripada manusia yang menggajimu.