Jumat, 30 Agustus 2019

HAJI BERULANG-ULANG KALI

MEMBINCANG KRITIK TERHADAP HAJI BERULANG-KALI
Oleh: Abdul Wahab Ahmad

Sebentar lagi jamaah haji datang. Biasanya orang-orang pun berziarah meminta doa mereka. Beberapa dari daftar ziarah yang ada di memori saya adalah orang yang sudah haji beberapa kali. Iri sekali pada mereka, semoga kelak bisa dipermudah juga haji berkali-kali. Amin.
Di sisi lain, kita lihat ada yang suka mengkritik orang haji berkali-kali. Dibilang tak peka pada orang sekitar yang membutuhkan, harusnya ongkosnya diberikan pada fakir miskin, harusnya diganti dengan ibadah sosial kemanusiaan, bla... bla... bla... Bahkan ada yang berfatwa bahwa haji berkali-kali tak diterima Allah bila ada kerabat dan tetangganya yang miskin.

Anggap saja kritik seperti itu benar, anggap memberikan sisa rezeki ke orang fakir miskin lebih utama daripada haji, tapi kenapa ya kritik tajam semacam itu hanya tertuju pada ibadah haji berulang saja? Tak satu pun saya dengar kritikus yang demikian mengkritik orang yang beli mobil, tanah, membangun rumah dan lain-lain dengan alasan serupa. Padahal harga mobil bekas standar saja bisa cukup setidaknya untuk haji dua kali. Apalagi harga mobil baru, harga tanah, membangun rumah dan sebagainya yang bisa seharga puluhan kali ongkos haji. Kenapa kritik tajam yang sama tak ditujukan pada mereka padahal seharusnya itu yang lebih pas dikritik?

Sabtu, 24 Agustus 2019

Bisakah Manusia Mengubah Takdir?

Dalam ilmu tauhid, takdir adalah istilah yang merujuk pada qadla’ atau keputusan Allah yang telah tertulis di lauh mahfudz sejak sebelum dunia tercipta. Allah menyinggung hal ini dalam banyak ayat, misalnya:
 
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
 
"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah" (QS. Al-Hadid: 22).
 
لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَلَا أَصْغَرُ مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْبَرُ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
 
“Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sekalipun seberat zarrah baik yang di langit maupun yang di bumi, yang lebih kecil dari itu atau yang lebih besar, semuanya (tertulis) dalam Kitab yang jelas (lauh mahfuzh),” (QS. Saba’: 3).
 
Kalau demikian, maka bisakah manusia mengubah takdir dengan usahanya sendiri? Jawaban pertanyaan ini sebenarnya tak ada, tak bisa dijawab dengan ya atau tidak, sebab pertanyaan ini bermasalah. Pertanyaan ini muncul dari asumsi seolah ada usaha atau tindakan di dunia ini yang tak tercatat sebagai takdir di lauh mahfudz sehingga hendak dipertentangkan dengan catatan di lauh mahfudz. Seolah-olah penanya ingin membenturkan antara usaha manusia di satu pihak dengan takdir di pihak lain. Padahal kejadiannya tidaklah demikian. Usaha manusia, baik itu berupa tindakan, pilihan rasional, atau doa yang dipanjatkan, semuanya adalah kejadian yang tertulis di lauh mahfudz sebagaimana disinggung dalam ayat di atas. Sama sekali tak ada kejadian apa pun yang tak terekam di sana. 
 

KERJA PADA MANUSIA ATAU PADA ALLAH?


Suatu saat seseorang yang berwirausaha membuli seorang pegawai dengan menggunakan bahasa hakikat. 

Terjadilah obrolan sebagai berikut :
Wirausahawan: Kamu kerja jadi pegawai artinya kamu kerja pada manusia. Sedangkan aku kerja pada Allah tak terikat pada manusia. Kamu digaji manusia, sedangkan aku digaji langsung oleh Allah. Meski mungkin gajiku tak tetap seperti gajimu, tapi jelas lebih kaya Allah yang mengajiku daripada manusia yang menggajimu. 

Selasa, 20 Agustus 2019

LIWETAN DAN NGAJI HIKAM 1

Ahad Kliwon
11
Dzulqo’dah 1440 H
14
Juli 2019
Ponpes Al Hikam Mlathen, Kauman, Tulungagung

مِنْ عَلَامَات الْاِعْتِمَادِ عَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانِ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُوْدِ الْزَّلَلِ
Sebagian tanda dari bergantung kepada amal, adalah kurangnya harapan kepada Allah ketika terjadi kesalahan / dosa

Dalam Liwetan dan Ngaji Hikam pagi ini, KH Makrus Maryani membacakan Fasal Hikam yang ke 1.
Imam Ibnu Athoillah memulai hikmah pertamanya bahwa Setengah dari tanda bahwa seorang itu bersandar diri pada kekuatan amal usahanya, yaitu berkurangnya pengharapan terhadap rahmat karunia Allah ketika terjadi padanya suatu kesalahan/dosa.

Amal usaha yang dimaksud disini adalah amal anggota badan, seperti Sholat, Dzikir dll.
Adapun yang bergantung pada Amal dibagi menjadi 2, yaitu ‘ubad (ahli ibadah) dan Muriidiin. Ahli ibadah menyandarkan ibadahnya untuk masuk surga dan kenikmatannya, selamat dari siksa Allah.

Minggu, 18 Agustus 2019

LIWETAN DAN NGAJI HIKAM 2


Ahad Kliwon
17 Dzulhijjah 1440 H/18 Agustus 2019
Pondok Pesantren “Ojo Susah” Kyai Sholihin Gondang Tulungagung

Qori’: KH Anang Muhsin (Pengasuh Ponpes Al Fattahiyah, Miren, Ngranti, Boyolangu)

إِرَ ادَ تُــكَ الـتَّجْرِ يْدَ مَـعَ إِقَامَـةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ اْلأَسْبَابِ مِنَ الشَّـهْـوَ ةِ الْخَفِـيـَّةِ.
وَ إِرَادَ تُـكَ اْلأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ الـتَّجْرِ يْدِ اِنحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَـلِـيـَّةِ

Keinginanmu untuk tajrid, sementara Allah masih menegakkan engkau di dalam asbab, merupakan syahwat yang tersamar (halus). 
Dan keinginanmu kepada asbab, pada saat Allah sudah menegakkan engkau dalam tajrid, merupakan suatu kejatuhan dari himmah yang tinggi

Apabila seseorang sedang Allah tempatkan dalam kondisi asbab itu, namun dia berkeinginan untuk tajrid (misalkan dengan ber-uzlah), maka itu dikatakan sebagai syahwat yang samar. Sebaliknya, saat Allah menempatkan seseorang dalam tajrid, namun dia justru menginginkan asbab, maka itu merupakan sebuah kejatuhan dari keinginan yang tinggi

Pertanyaannya bagaimana mengetahui kita ada di maqom mana ? dalam pengajian tadi disebutkan bahwa alamat/ciri2 ketika Allah menempatkan kita di maqom asbab atau kasab adalah apabila terasa ringan kasab tersebut bagi kita, sehingga tidak menyebabkan lalai menjalankan suatu kewajiban dalam agamamu, juga menyebabkan kita tidak tamak [rakus] terhadap milik orang lain.

Dan tanda bahwa Allah mendudukkan kita dalam golongan hamba yang tidak berusaha (Tajrid). Apabila Tuhan memudahkan bagi kita kebutuhan hidup dari jalan yang tidak tersangka, kemudian jiwa kita tetap tenang ketika terjadi kekurangan, karena tetap ingat dan bersandar kepada Tuhan, dan tidak berubah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban.

Sambutan ke 2
Oleh Al Mukarom Kyai Hadi Muhammad Mahfudz
Pengasuh Ponpes Al Hikmah Mlathen, Kauman Tulungagung
Ketua MUI Tulungagung dan Pengurus PWNU Jawa Timur

Beliau dawuh, sebetulnya kita sering berdoa pada Allah tapi yang kita minta bukanlah yang terbaik menurut Allah, melainkan kita meminta hal-hal yang cocok dengan keinginan hati kita, yang mana keinginan kita belum tentu yang terbaik menurut Allah.