Minggu, 27 Oktober 2019

LIWETAN DAN NGAJI HIKAM 4

Ahad Kliwon
27 Oktober 2019
PP Shobirul Iman, Pagutan, Tamban, Tulungagung
Qori’ :
KH Makrus Maryani
لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدِ الْعَطَاءِ مَعَ الْإِلْحَاحِ فِي الدُّعَاءِ مُوْجِبًا لِيَأْسِكَ فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْإِجَابَةَ فِيْمَا يَخْتَارُهُ لَكَ لَا فِيْمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ وَ فِي الْوَقْتِ الَّذِيْ يُرِيْدُ لَا فِي الْوَقْتِ الَّذِيْ تُرِيْدُ
Terlambatnya pemberian Allah setelah engkau bersungguh-sungguh berdoa
janganlah menyebabkan dirimu berputus asa.
Ketahuilah, Bahwa Allah menjamin doa yang kau panjatkan
(tetapi) sesuai dengan pilihan-Nya (kehendak-Nya),
bukan karena kehendakmu.

Sesungguhnya Allah lebih Pemurah dari raja dunia. Karena Maha Pemurah, maka tak ada halangan bagi-Nya untuk mengabulkan doa hamba-hambaNya. Hanya saja, kapan doa itu dibalas dengan rahmat. Waktunya terserah Allah. Sebab Dia yang Punya Hak untuk itu.

Minggu, 22 September 2019

LIWETAN DAN NGAJI HIKAM 3


Ahad Kliwon
22 Sepetember 2019
PP Al Fatahiyyah Ngranti, Boyolangu Tulungagung

Qori’ :
KH Makrus Maryani

سَوَابِقُ الْهِمَمِ لَا تَحْرِقُ أَسوار الاقدار.
Tekad yang kuat itu tidak dapat menembus benteng takdir.
SEBAB-AKIBAT TIDAK AKAN BERPENGARUH, KECUALI HANYA DENGAN QADHA ALLAH
Menggebunya semangat tak akan mampu menerobos benteng takdir.
Himmah ( keinginan/cita-cita ) adalah kekuatan yang mendorong hati dalam mencari sesuatu dan menganggapnya penting.
Jika sesuatu itu adalah perkara yang luhur (tinggi) seperti ma’rifatullah (mengetahui Allah) maka disebut Himmah ‘Aaliyah.
Jika sesuatu itu adalah perkara yang rendah seperti mencari dunia dan bagian-bagiannya maka disebut Himmah Daniyyah.
Seseorang yang ma’rifatullah atau seseorang yang menghendaki sesuatu dengan keinginan yang kuat maka Allah SWT akan mewujudkan hal itu dengan kekuasaan-Nya dalam satu waktu sehingga urusannya tersebut menjadi urusan Allah SWT pula.

Jumat, 30 Agustus 2019

HAJI BERULANG-ULANG KALI

MEMBINCANG KRITIK TERHADAP HAJI BERULANG-KALI
Oleh: Abdul Wahab Ahmad

Sebentar lagi jamaah haji datang. Biasanya orang-orang pun berziarah meminta doa mereka. Beberapa dari daftar ziarah yang ada di memori saya adalah orang yang sudah haji beberapa kali. Iri sekali pada mereka, semoga kelak bisa dipermudah juga haji berkali-kali. Amin.
Di sisi lain, kita lihat ada yang suka mengkritik orang haji berkali-kali. Dibilang tak peka pada orang sekitar yang membutuhkan, harusnya ongkosnya diberikan pada fakir miskin, harusnya diganti dengan ibadah sosial kemanusiaan, bla... bla... bla... Bahkan ada yang berfatwa bahwa haji berkali-kali tak diterima Allah bila ada kerabat dan tetangganya yang miskin.

Anggap saja kritik seperti itu benar, anggap memberikan sisa rezeki ke orang fakir miskin lebih utama daripada haji, tapi kenapa ya kritik tajam semacam itu hanya tertuju pada ibadah haji berulang saja? Tak satu pun saya dengar kritikus yang demikian mengkritik orang yang beli mobil, tanah, membangun rumah dan lain-lain dengan alasan serupa. Padahal harga mobil bekas standar saja bisa cukup setidaknya untuk haji dua kali. Apalagi harga mobil baru, harga tanah, membangun rumah dan sebagainya yang bisa seharga puluhan kali ongkos haji. Kenapa kritik tajam yang sama tak ditujukan pada mereka padahal seharusnya itu yang lebih pas dikritik?

Sabtu, 24 Agustus 2019

Bisakah Manusia Mengubah Takdir?

Dalam ilmu tauhid, takdir adalah istilah yang merujuk pada qadla’ atau keputusan Allah yang telah tertulis di lauh mahfudz sejak sebelum dunia tercipta. Allah menyinggung hal ini dalam banyak ayat, misalnya:
 
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
 
"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah" (QS. Al-Hadid: 22).
 
لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَلَا أَصْغَرُ مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْبَرُ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
 
“Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sekalipun seberat zarrah baik yang di langit maupun yang di bumi, yang lebih kecil dari itu atau yang lebih besar, semuanya (tertulis) dalam Kitab yang jelas (lauh mahfuzh),” (QS. Saba’: 3).
 
Kalau demikian, maka bisakah manusia mengubah takdir dengan usahanya sendiri? Jawaban pertanyaan ini sebenarnya tak ada, tak bisa dijawab dengan ya atau tidak, sebab pertanyaan ini bermasalah. Pertanyaan ini muncul dari asumsi seolah ada usaha atau tindakan di dunia ini yang tak tercatat sebagai takdir di lauh mahfudz sehingga hendak dipertentangkan dengan catatan di lauh mahfudz. Seolah-olah penanya ingin membenturkan antara usaha manusia di satu pihak dengan takdir di pihak lain. Padahal kejadiannya tidaklah demikian. Usaha manusia, baik itu berupa tindakan, pilihan rasional, atau doa yang dipanjatkan, semuanya adalah kejadian yang tertulis di lauh mahfudz sebagaimana disinggung dalam ayat di atas. Sama sekali tak ada kejadian apa pun yang tak terekam di sana. 
 

KERJA PADA MANUSIA ATAU PADA ALLAH?


Suatu saat seseorang yang berwirausaha membuli seorang pegawai dengan menggunakan bahasa hakikat. 

Terjadilah obrolan sebagai berikut :
Wirausahawan: Kamu kerja jadi pegawai artinya kamu kerja pada manusia. Sedangkan aku kerja pada Allah tak terikat pada manusia. Kamu digaji manusia, sedangkan aku digaji langsung oleh Allah. Meski mungkin gajiku tak tetap seperti gajimu, tapi jelas lebih kaya Allah yang mengajiku daripada manusia yang menggajimu.